Kategori

My Lovely Shin


Author : Aiia
Main Cast : Jung Yong Hwa, Park Shin Hye, Park Yoo Chun, Yoon Eun Hye
Other Cast : FIND YOUR SELF
Lenght : Two Shoot
Genre : Romance, Sad, Family, Life
Rating : PG
Credit Poster : Aimuris Art
Disclaimer : Seluruh cerita yang ada di Fanfiction ini murni hasil kerja dan imajinasi author tanpa ada campur tangan atau menjiplak dari karya orang lain adapun penulisan ff ini terinspirasi dari film luar Negeri dengan judul The Lovely Bones. Cast sepenuhnya hanya milik Tuhan dan author hanya meminjam nama mereka saja untuk keperluan cerita. Kesempurnaan hanya milik Tuhan sementara ke-typo-an milik author!!!
Don’t copy paste and bash. cukup sekian Happy Reading (^°^).

***


Jika dalam satu menit saja kau bisa mencintaiku lalu berapa lama waktu untuk kau melupakanku? akankah aku selalu ada di hatimu jika sebuah jarak besar membentang memisahkan kita, bukan hanya jarak melainkan ruang dan waktu.

*** My Lovely Shin ***

Namaku Shin Hye, Shinji itulah panggilanku. Aku dipanggil dengan nama seperti itu karena mereka bilang senyumku sangat manis bagai mentari yang bersinar, usiaku baru 16 tahun dan satu bulan lagi usiaku tepat 17 tahun. Kau tau? usia 17 adalah usia yang paling di nanti setiap anak gadis dalam hidupnya, lagi pula Oppa akan memberikanku kejutan saat hari itu tiba.
Ah, ya aku terlahir sebagai yatim piatu dan di dunia ini hanya Oppa yang ku miliki. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan 10 tahun yang lalu saat akan menjemput Oppa di bandara dan aku satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan tersebut.
Mungkin semua makhluk hidup tidak akan pernah tau kapan dirinya akan pergi dan aku juga tidak pernah tau bagaimana kematian itu akan datang serta dengan cara apa dia menjemputku hingga semua datang.

"Shinji, Palli ireona. Ini sudah siang, kau mau terlambat ke sekolah eoh". Seorang yeoja berteriak dengan sangat keras dan dari asal suaranya yeoja itu tengah berada di sebuab ruangan yang berada di lantai bawah, sementara Shin Hye terbangun dengan mata yang masih setengah tertutup di lantai bawah tepatnya di dapur terlihat seorang yeoja cantik tengah memakai perlengkapan 'perang'nya.
"Kau masak apa?". Tanya seorang namja sambil mengecup kilat pipi yeoja yang masih sibuk dengan pekerjaannya itu.
"Hanya nasi goreng dan sayuran saja, mana adikmu? apa dia masih tidur?". Jawab yeoja itu sambil bertanya dan tangannya yang cekatan memindahkan nasi goreng ke atas mangkuk yang besar.
"Adikku? Maksudmu? Adikmu? sepertinya sudah, tadi aku lewat kamarnya dia tidak ada". Jawab namja tampan tersebut.

Namja yang kini tengah duduk sambil menatap yeoja cantik di seberangnya itu Oppaku, namanya Park Yoo Chun dan yeoja cantik itu Yoon Eun Hye Eonni, mereka bertunangan sejak satu tahun yang lalu sementara acara pernikahan mereka tinggal beberapa bulan lagi. Eun Hye Eonni sudah seperti kakak perempuanku sendiri mungkin bisa dikatakan aku lebih dekat dengannya dibanding dengan Yoo Chun Oppa kakak kandungku sendiri.
Mungkin karena aku merindukan sosok seorang eomma dan Eun Hye Eonni sangat hangat sehangat perlakuan seorang eomma.

Aku yang sudah rapi langsung turun dan melihat mereka berdua tengah mendebatkan keberadaanku. Hah mereka ini merusak pagiku yang cerah.



Author pov
"Yya, kau jahat sekali. Kalian itu mirip, karena sama-sama sulit untuk dibangunkan jika sudah pagi sementara saat malam mata kalian terbuka sempurna. Aku heran apa kalian ini titisan siluman kelelawar atau kalian ini vampir?'. Ejek Eun Hye dengan sedikit senyuman di akhir kalimatnya.
"Yya, apa aku seburuk itu di mata kalian? sampai-sampai aku tidak di akui sebagai adik dan kau juga Oppa kau benar-benar jahat, Eonni juga". Dumel Shin Hye sambil menarik kursi yang berseberangan dengan Eun Hye, Eun Hye yang terkena omelan Shin Hye hanya menunjuk dirinya sendiri setelah itu mendelik ke arah Yoo Chun sambil sedikit bergumam.
"Hahaha, Mianhe. Kau adikku yang terbaik”. Ucap Yoo Chun sambil mengacak rambut Shin Hye gemas.
“Lihat saja jika aku nanti pergi meninggalkan kalian”. Setelah mengucapkan hal itu Shin Hye pun menyimpan piring kotornya ke dapur.
“Gara-gara mu nih, cepat bujuk dia”. Pinta Yoo Chun.
“MWO?? Aku? Dasar kau yang memulai”. Eun Hye langsung pergi menghampiri Shin Hye dan tidak berapa lama mereka keluar dengan wajah yang berseri.
“Apa yang kau katakan padanya?”. Tanya Yoo Chun saat melihat Shin Hye tersenyum lebar.
“Any, aku hanya bilang kau akan memberikan uang saku lebih besar kepadanya mulai hari ini”. Jawab Eun Hye sambil meleletkan lidahnya.
“Yya, Kau”. Yoo Chun hanya mampu berteriak saat Eun Hye sudah lebih dulu berlari.

*

“Baiklah, Oppa berangkat ne. Nanti pulang Oppa jemput Oke”. Ucap Yoo Chun dan di jawab dengan menaikkan jempol tangan oleh Shin Hye.
Yoo Chun pun meninggalkan gedung besar tersebut.
Shin Hye berjalan riang dan sedikit membungkuk pada guru yang tidak sengaja berpapasan dengannya, selama Shin Hye berjalan guru tersebut memperhatikan gerak-gerik Shin Hye.
Seorang guru yang juga bertempat tinggal satu blok dengan Shin Hye hanya saja posisi rumahnya terhalang beberapa rumah dan berada di sebrang rumah Shin Hye.

Beberapa saat berlalu, Shin Hye dan Hye Mi teman sebangkunya keluar kelas begitu jam pelajaran usai.
“Bagaimana menurutmu pelajaran tadi? Apa kau merasa bosan?”. Tanya Hye Mi di sela-sela perjalanannya.
“Any, biasa saja, memang kau merasa bosan?”. Tanya Shin Hye.
“Tentu saja, pelajaran sejarah tentang kerajaan dinasti Joseon membuatku benar-benar bosan. Kenapa tidak putar saja film, itu pasti lebih seru”. Ucap Hye Mi yang kini berjalan mundur dengan tubuh menghadap Shin Hye.
“Yya, Berjalan yang benar”. Shin Hye membalikkan tubuh Hye Mi danmerangkulnya setelah itu berjalan sambil tertawa menuju kantin, sementara itu seseorang dibelakang Shin Hye dan Hye Mi terlihat tengah tersenyum tepat saat Shin Hye tersenyum juga.

**

Jam pelajaran telah usai begitu cepat, semua anak sudah mulai berjalan untuk pulang. Shin Hye dan Hye Mi berjalan menuju loker dan menyimpan beberapa buku pelajarannya disana.
“Shin, jangan lupa sabtu sore kita nonton oke?”. Ucap Hye Mi sambil merapikan buku-buku ke dalam loker.

BRAK

Tiba-tiba pintu loker Hye Mi di tutup paksa seorang namja dengan wajah kesal, tangannya menggenggam tangan Hye Mi namun matanya seolah tidak memperdulikan sekitarnya.

“Yya, Appo. Bisakah kau lepaskan tanganku?”. Rintih Hye Mi namun namja itu masih menggenggam tangannya dengan kencang.
“Yya, Kim No Eul lepaskan tangan Hye Mi”. Pinta Shin Hye namun namja itu tetap diam.
“Aku ingin bicara denganmu”. Ucap No Eul tanpa melihat ke arah Shin Hye.
“Tapi aku sedang berbicara dengan Shin Hye”. Ucap Hye Mi.
“Sekarang”. No Eul tidak menerima alasan Hye Mi.
“Mianhe, Shin aku harus pergi”. Akhirnya Hye Mi pun meninggalkan Shin Hye dengan No Eul yang tidak sedikit pun menoleh ke arah Shin Hye.
“Aneh”. Gumam Shin Hye sambil memasukkan buku-buku yang tadi sempat terhenti ke dalam loker.
“Hai”. Seseorang berdiri tepat disamping Shin Hye tepat saat Shin Hye menutup pintu loker hingga Shin Hye terlonjak karena kaget.
“Mianhe, karena mengagetkanmu. Aku tidak bermaksud seperti itu”. Ucap namja tersebut.
“Ne, Gwaenchana Yong”. Ucap Shin Hye malu.
“Hmm, Shin sore ini apa kau ada acara?”. Tanya namja bernama Jung Yong Hwa dengan sedikit menundukkan wajahnya.
“Any, Waeyo?”. Tanya Shin Hye.
“Jinjja? Aku punya dua tiket menonton malam ini apakah kau mau menemaniku? Itu pun jika kau mau”. Ucap Yong Hwa yang kali ini menatap lekat mata boneka di hadapannya itu.
“Ne, baiklah”. Jawab Shin Hye sambil tersenyum.
“Nona Park Shin Hye, kau tau kau terlihat begitu cantik saat tersenyum”. Ucap Yong Hwa sambil mendekati Shin Hye, tepat saat kedua wajah mereka sudah hampir dekat bahkan Shin Hye sudah menutup matanya terdengar pintu kelas yang terbuka membuat Shin Hye dan Yong Hwa melonjak kaget dan Shin Hye tanpa sengaja menjatuhkan buku serta tasnya.
“Kalian? Sedang apa disini? Bukannya pulang? Dan kau nona Park, kau belum di jemput apa kau mau ikut bersamaku?”. Ucap guru bermarga Kim tersebut.
“Aniyo, sebentar lagi Oppa akan menjemput. Gomapta atas tawarannya”. Tolak Shin Hye dengan halus dan sopan. Ini bukan pertama kalinya Shin Hye menolak tawaran dari gurunya tersebut dan tanpa Shin Hye sadari tangan guru tersebut tergenggam menahan emosi.
“Baiklah, kalau begitu aku duluan”. Ucap tuan Kim dengan senyum yang di paksakan.
“Ige bukumu”. Ucap Yong Hwa sambil memberikan buku yang tadi terjatuh dan tanpa Shin Hye ketahui Yong Hwa menyelipkan sesuatu di sela-sela buku Shin Hye.
“Sore ini aku tunggu kau di depan pintu bioskop”. Ucap Yong Hwa sebelum pergi.
“Ne”. Shin Hye pun mengangguk.

***

Shin Hye yang sudah siap dengan baju sporty lengkap dengan topi kesayangannya sudah melekat sempurna di tubuhnya. Setelah berpamitan dengan Yoo Chun akhirnya Shin Hye pun berjalan menuju Mal yang sudah di janjikan dan tepat di depan pintu bioskop Yong Hwa berdiri dengan gagah dan tampan.
“Shin”. Yong Hwa melambaikan tangannya saat pupil matanya menangkap sosok yang sudah amat dikenalnya.
Shin Hye pun berlari dan menghampiri Yong Hwa yang tengah tersenyum.
“Apa kau menunggu lama?”. Tanya Shin Hye.
“Any, aku baru saja datang. Kita masuk saja, filmnya akan segera di mulai kajja”. Yong Hwa menarik tangan Shin Hye dan menggenggamnya erat sementara Shin Hye hanya mampu tersenyum sambil menatap ke arah tangan yang tengah di genggamnya.

Sudah hampir dua jam mereka di dalam gedung bioskop akhirnya mereka keluar, mata Shin Hye terlihat sembap karena di dalam tadi dirinya menangis saat menonton film sad romance dimana pemeran wanitanya harus meninggal tanpa bisa menyatakan perasaannya pada namja yang disukainya.

“Gomawo sudah mengantarkanku pulang dan untuk hari ini, aku sangat senang”. Ucap Shin Hye.
“Ne, syukurlah jika kau senang. Mian, jika aku tidak bisa memberikan kesan lain yang membuatmu lebih bahagia”. Jawab Yong Hwa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Any, aku sudah bahagia. Gomawo”. Jawab Shin Hye.
“Shinji”. Panggil Yong Hwa.
“Ne?”. Shin Hye melihat ke arah Yong Hwa yang mulai mendekatkan kembali wajahnya pada wajah Shin Hye dan kini jarak mereka hanya sekitar 5 centi sebelum seseorang kembali membuka pintu dan menggagalkan kembali aksi Yong Hwa.
“Shinji, sudah malam. Cepat masuk”. Ucap Yoo Chun.
“Ne, Jalja Yong”. Shin Hye pun masuk ke dalam rumah sementara Yoo Chun masih memperhatikan Yong Hwa yang masih berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
“Siapa namamu?”. Tanya Yoo Chun.
“Yong Hwa, Jung Yong Hwa”. Jawab Yong Hwa sopan sambil membungkukkan sedikit badannya.
“Oh, Ne. Kalau begitu Yong Hwa ini sudah malam, lebih baik kau cepat pulang dan besok kau harus sekolah bukan? Tapi, aku ucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan Shin Hye pulang. Berhati-hatilah di jalan”. Ucap Yoo Chun yang membuat Yong Hwa mundur dan berpamitan.

Setelah Yong Hwa pergi, Yoo Chun menghampiri Shin Hye di kamarnya.
“Oppa, waeyo?”. Tanya Shin Hye.
“Any, apa kau menyukai namja tadi?”. Tanya Yoo Chun,
“Any, sudah Oppa tidur saja”. Jawab Shin Hye menghindari pertanyaan kakaknya tersebut.
“Aku sudah mengantuk Oppa, Hoamm. Ga, Oppa juga tidur ne”. Shin Hye mendorong tubuh Yoo Chun keluar kamarnya setelah itu menutup pintu, Yoo Chun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saat melihat kelakuan adik kecilnya tersebut, ah any adik yang sudah remaja itu.
“Percintaan anak remaja”. Gumam Yoo Chun setelah itu pergi meninggalkan kamar Shin Hye. 

***

Pembunuhan kembali terjadi dan kali ini korbannya seorang mahasiswi tingkat tiga Universitas Seoul, gadis itu ditemukan setelah beberapa hari dinyatakan hilang dan kini tubuhnya di temukan tidak bernyawa di antara semak-semak, diperkirakan usia mahasiswi tersebut sekitar 21 tahun. Yoo Chun yang bekerja sebagai detective kembali membuka berkas yang dahulu pernah di tutupnya, setelah tujuh tahun berlalu korban dengan cara pembunuhan yang sama kembali terulang, di tubuh gadis tersebut tersemat sebuah pin tanpa sedikit pun luka yang ada di sekujur tubuhnya, entah bagaimana cara si pembunuh tersebut melakukannya.
“Chagi, Eotte? Sudah ada perkembangan siapa tersangka dalam kasus ini?”, tanya Eun Hye do sela-sela kerjanya. Ya, Eun Hye dan Yoo Chun bekerja di tempat yang sama dan mendapatkan kasus yang sama pula.
“Entahlah, jika dilihat kematian korban sama dengan tujuh tahun lalu dan beberapa korban di beberapa tempat serta negara. Aku yakin mereka hanya ada satu orang, kau lihat ini”. Jawab Yoo Chun sambil menunjukkan gambar korban terakhir yang di temukan, tidak ada bukti penyiksaan ataupun pembunuhan sadis disana.
“Aku harus menangkapnya sebelum ada korban lain”. Ucap Yoo Chun.
“Chogio, Tuan ada berita kehilangan lagi dan kali ini korbannya seorang anak SMA berusia 15 tahun”. Seseorang datang dengan membawa berkas korban menghilang.
“Anak SMA? Siapa namanya?”. Tanya Eun Hye.
“Seo Hyeon, lengkapnya Cho Seo Hyeon dia menghilang satu hari yang lalu setelah pulang dari club drama disekolahnya”. Ucap namja yang dikenal dengan nama Kang Ho Dong.
“Baiklah, Tuan Kang. Kau buat berita acaranya setelah itu kita telusuri dari awal kejadian dan mulai menyusun laporannya. Besok pagi kita datangi rumah korban”. Ucap Yoo Chun pada rekannya tersebut. Setelah beberapa lama jam pulang pun datang.

*

“Aku heran bagaimana mungkin tidak ada sedikit pun jejak”. Gumam Yoo Chun sambil melepas dasi yang mencekik lehernya sejak tadi pagi.
“Waeyo Oppa?”. Tanya Shin Hye sambil melirik ke arah Yoo Chun yang kini tengah berjalan menuju ruang keluarga.
“Any, kau sudah makan?”. Jawab Yoo Chun sambil bertanya.
“Sudah, tadi aku beli ramen. Aku juga belikan untuk Oppa”. Ucap Shin Hye yang kembali menatap layar televisi di depannya.
“Gomawo”. Yoo Chun pun berjalan menuju kamarnya yang sebelumnya mengacak rambut Shin Hye.

Yoo Chun yang menghenyakkan tubuhnya di atas sofa yang berada di kamarnya hanya mampu memijit pelipisnya kasar, kasus yang beberapa tahun lalu sudah di tutup kini terulang kembali. Kasus pembunuhan tanpa sedikit pun luka dan korban di temukan di tempat yang tidak cukup jauh dari dimana dirinya menghilang.
“Jika benar, kalau begitu..?”. Yoo Chun langsung berdiri dan kembali keluar kamar dengan tergesa-gesa.
“Oppa, Eodi?”. Tanya Shin Hye saat melihat Yoo Chun keluar dengan tergesa.
“Oppa keluar sebentar, tadi Oppa sudah menelpon Eun Hye untuk menemanimu malam ini dan kau jangan pergi kemana-mana, arachi”. Ucap Yoo Chun sambil memakai sepatu dan langsung pergi keluar.

Shin Hye yang bosan mengambil buku yang sejak tadi dibawanya, saat Shin Hye membuka buku tersebut tiba-tiba sebuah kertas terjatuh dari dalamnya.
Shin Hye pun mengambil kertas tersebut, kertas yang di lipat begitu kecil lalu membukanya perlahan.

Aku mulai bertanya siapa kau?
Mengapa kau begitu membuatku terluka?
Mencari saat kau tidak dapat terlihat dalam pandang mata.
Aku hanya membutuhkan waktu satu detik untuk mengenal siapa namamu.
Dan aku hanya butuh satu menit untuk mencintaimu.
Jika aku hanya punya waktu satu jam untuk bersama denganmu
Akan aku jadikan itu satu kenangan yang tidak akan ku lupakan.
Senyummu seperti mentari yang menyinari sunyi hatiku.

-Yongie-

“Yongie?”. Gumam Shin Hye yang masih membaca nama yang tertera di akhir puisi tersebut.
Saat Shin Hye berfikir tentang siapa itu Yongie, pintu bel berbunyi. Shin Hye pun berjalan ke depan dan melihat ke arah intercom, karena jika Eun Hye tidak akan mungkin membunyikan bel yang ada pasti langsung masuk karena dia memiliki kunci sendiri.
Shin Hye melihat seseorang tengah menunduk sehingga wajahnya tidak terlihat dalam layar.
“Nuguseyo?”. Tanya Shin Hye pada alat suara.
Orang yang tertunduk itu pun menengadahkan kepalanya, seorang namja tampan yang terlihat menggaruk tengkuknya.
“Mianhe, apa aku bisa bertemu denganmu?”. Ucap namja yang tidak lain Yong Hwa.
Shin Hye pun tersenyum dan segera membuka pintu.
“Anyeong”. Sapa Shin Hye.
“Anyeong, apa kau di rumah sendiri?”. Tanya Yong Hwa.
“Ne, darimana kau tau?”. Jawab Shin Hye dengan bertanya.
“Tadi saat aku pulang dari rumah Kim Ssaem aku melihat Hyung keluar dengan tergesa”. Jawab Yong Hwa dan dari beberapa rumah terlihat seseorang tengah melihat keluar jendela dan memandang tepat ke arah rumah Shin Hye, walaupun terhalang beberapa rumah tetap saja rumah Shin Hye terlihat jelas karena letaknya tepat di belokan.

“Park Shin Hye”. Gumamnya.

Tidak berapa lama mobil Eun Hye sampai di pekarangan rumah Shin Hye dan melihat mereka masih berdiri di luar rumah, ya sejak tadi Shin Hye tidak mempersilahkan Yong Hwa untuk masuk.
“Eonni”. Panggil Shin Hye.
Eun Hye pun tersenyum sambil mengarahkan kunci otomatis ke arah mobilnya.
“Nugu?”. Tanya Eun Hye pada namja yang kini tertunduk sopan padanya.
“Kenalkan dia temanku, Jung Yong Hwa”. Shin Hye memperkenalkan Yong Hwa.
“Anyeong, Jung Yong Hwa Imnida”. Ucap Yong Hwa memperkenalkan diri.
“Yoon Eun Hye Imnida, temanmu atau kekasihmu?”. Ucap Eun Hye tanpa memandang Shin Hye membuat Yong Hwa tersipu malu begitu pun dengan Shin Hye.
“Any, aku hanya temannya”. Jawab Yong Hwa kikuk.
“Apa kau sejak tadi disini? Shin, kau jahat sekali. Yong Hwa tidak kau ajak masuk?”. Ucap Eun Hye yang membuat Shin Hye terkejut dan memang benar sejak tadi Shin Hye tidak mempersilahkan Yong Hwa masuk dan malah mengajaknya berbicara di luar seperti ini.
“Ah, mianhe. Kajja Yong kita masuk”. Ucap Shin Hye mempersilahkan Yong Hwa untuk masuk.
“Any, aku langsung pulang saja. Karena kau sudah ada yang menemani, lagi pula ini sudah malam dan besok kita masih bisa bertemu di sekolah”. Tolak Yong Hwa dengan halus namun ada sedikit kekecewaan di wajah Shin Hye.
“Kau yakin?”. Tanya Eun Hye.
“Ne, Noona. Shin aku pamit, Noona permisi aku pamit pulang”. Yong Hwa membungkukkan sedikit kepalanya dan mulai menaiki motor yang tadi dipakainya setelah itu meninggalkan Shin Hye dan juga Eun Hye yang masih betah berada di luar rumah.
“Kau yakin dia hanya teman saja? Aku rasa dia menyukaimu Shin”. Ucap Eun Hye tanpa memandang Shin Hye dan sedikit melirik Shin Hye yang tertunduk malu.
“Jadi benar kalian bukan hanya sebatas teman?”. Tebak Eun Hye.
“Yya, Any. Kami hanya teman sudahlah jangan bercanda”. Elak Shin Hye hingga akhirnya gelak tawa diantara kedua wanita itu terdengar sementara di sebrang seseorang masih memperhatikan gerak-gerik Shin Hye dan juga Eun Hye setelah itu menutup paksa tirai gorden rumahnya..

***

Kasus yang sebelumnya ditangani Yoo Chun akhirnya membuahkan hasil, selang dua hari jenazah korban di temukan di sebuah danau dengan kondisi yang cukup mengenaskan, tubuhnya sudah membiru dan mengembang karena mengapung, garis polisi terpasang di sepanjang jalur, ada yang mengatakan jika seseorang mendengar jeritan seorang wanita dua hari yang lalu namun karena di sekitar danau itu penuh dengan tanaman berduri. Dan sepertinya gadis itu jatuh tergelincir dengan sedikit luka baret mungkin karena terkena pohon duri tersebut.

“Oppa”. Panggil Shin Hye di ambang pintu.
“Shin, kemarilah”. Ucap Yoo Chun.
“Kau sedang apa?”. Tanya Shin Hye.
“Sebentar, coba kau tarik tali ini Shin”. Ucap Yoo Chun sambil memberikan beberapa tali pada Shin Hye.
“Woaa daebak”. Shin Hye terpukau saat layar terkembang dengan posisi di dalam botol.
Yoo Chun selain seorang detective dia juga sangat menyukai seni dan beberapa karyanya sudah terlihat ketika memasuki rumah, ya beberapa karyanya menghiasi ruang keluarga.
“Coba buka itu”. Pinta Yoo Chun.
Shin Hye pun berjalan menuju tempat yang di tutupi kain putih dan menarik kain tersebut, seketika Shin Hye terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Apa kau suka?”. Tanya Yoo Chun sambil mengacak rambut Shin Hye.
“Hmm”. Jawab Shin Hye sambil mengangguk.
“Ini benar-benar aku?”. Tanya Shin Hye lagi.
“Bukan, itu penjual kue beras yang ada di depan sekolahmu”. Jawab Yoo Chun asal.
“yya, Oppa”. Teriak Shin Hye dan Yoo Chun hanya tertawa.

*
“Shin, Ige pakai ini”. Ucap Eun Hye sambil memberikan Syal rajutan padanya.
“Gomapta”. Shin Hye pun memakai syal yang diberikan Eun Hye.
Hari ini udara memang sedikit lebih dingin dan Shin Hye sangat mudah terserang flu.
“Yya, pakai yang benar. Bagaimana Yong Hwa akan menjadikanmu kekasih memakai syal saja tidak bisa”. Ucap Eun Hye yang sedikit meledek Shin Hye.
“Ish, Eonni”. Jawab Shin Hye.
“Sudah cepat nanti kau ketinggalan bis, mianhe Eonni tidak bisa mengantarmu”. Sesal Eun Hye.
“Gwaenchana”.
Shin Hye pun tersenyum dan sedikit berjalan lalu kembali dan memeluk Eun Hye.
“Aku menyayangi Eonni, tetaplah jadi Eonniku yang baik. Aku tidak akan terima yeoja lain selain Eonni untuk Oppa, Saranghae Eonni”. Setelah mengucapkan hal itu Shin Hye pun mengecup pipi Eun Hye membuat Eun Hye terdiam di tempatnya, sedekatnya Shin Hye dengan dirinya baru kali ini Shin Hye mengatakan hal yang membuat hatinya hangat namun entah mengapa kata itu tidak disukai Eun Hye seolah ada makna lain dari ucapan tersebut.
Shin Hye pun tersenyum sambil melambaikan tangan, manis sangat manis dan bercahaya seperti sinar mentari. Eun Hye hanya mampu menatap kepergian Shin Hye sambil meremas bajunya tanpa dia sadari.

Shin Hye POV

Aku tidak pernah tau jika ada seseorang yang memperhatikan setiap langkahku bahkan sejak awal aku keluar rumah, aku juga tidak pernah tau jika orang tersebut memiliki sifat baik atau tidak karena aku tidak pernah berfikiran buruk tentang siapa pun. Bagiku berfikiran buruk tentang orang lain kepadaku hanya membuatku tidak berkembang, maka dari itu aku tidak pernah membenci siapapun. Kalau kecewa? Tentu saja aku pernah. Namun satu hal yang membuat pandangan itu berbeda.
Selama beberapa minggu terakhir aku dan Yong Hwa sudah mulai dekat bahkan Yoo Chun Oppa juga sudah mengenal baik Yong Hwa tapi status kita masih sama hanya teman tidak lebih dari itu.

Hari ini aku merasa senang, karena hari ini hari yang special untukku. Oppa dan Eonni berjanji akan mengajakku ke taman rekreasi besok untuk pengganti hari ini, karena hari ini Oppa dan Eonni tengah merencanakan sebuah kejutan untukku.

“Shin”. Yong Hwa menghampiriku dengan wajah yang sumringah.
“Ne, Yong”.

“Nanti malam aku tunggu kau di depan pintu bioskop apa kau bisa?”. Tanya Yong Hwa.
“Hari ini aku tidak bisa karena Oppa dan Eonni..”. Ucap Shin Hye terpotong.
“Aku sudah meminta izin pada Hyung dan dia bilang itu terserah padamu. Jadi, apa kau bisa?”. Potong Yong Hwa.
“Baiklah kalau begitu”. Jawab Shin Hye dengan tersenyum.
“Aku tunggu kau di depan pintu bioskop jam 7, eotte?”. Tanya Yong Hwa.
“Ne”. Shin Hye hanya mengangguk dan tersenyum.
“Baiklah, aku pergi dan jangan lupa”. Ucap Yong Hwa mengingatkan.

Hari ini merupakan hari yang tidak akan pernah terlupakan untukku, hari ini aku pulang sendiri karena Oppa masih sibuk di kantor.

“Shin, kau belum di jemput?”. Tanya Kim Ssaem.

Dia Kim Rae Won, guru sekaligus tetanggaku. Beberapa kali dirinya menawarkan untuk mengajakku pulang bersama.
“Tidak, karena Oppa masih ada pekerjaan jadi aku naik bis saja”.
“Kalau begitu pulang denganku saja”. Kim Ssaem kembali menawarkan bantuannya.
“Any, aku naik bis saja khamsahamnida”. Aku hanya bisa menolaknya lagi dan lagi, bukan berarti aku ingin menolak hanya saja aku sedikit canggung.
“Aku hanya ingin menawarkan bantuan untukmu, apa kau membenciku?”. Tanya Kim Ssaem dengan tertunduk sedih setelah itu berjalan mengitari mobilnya, dia masih berdiri sebelum membuka pintu mobil.

Sungguh baru kali ini aku merasa tidak enak dengannya, akhirnya aku pun meng’iya’kan tawarannya.
Sudah setengah perjalanan menuju rumah, tapi kenapa Kim Ssaem membelokkan mobilnya.
“Miahe, Kim Ssaem kita mau kemana?”. Dengan sedikit Khawatir dan gugup aku mulai bertanya.
“Sebentar aku mau ke tempat temanku”. Jawab Kim Ssaem.
Aku hanya mampu terdiam dan melihat pemandangan di luar.
“Shin, bisa keluar sebentar”. Pinta Kim Ssaem.
“Ne”. Tanpa sedikit pun rasa curiga aku pun mengikuti Kim Ssaem untuk keluar.
“Ssaem, bukankah kita akan ke rumah temanmu?”. Tanyaku.
“Ne, tapi ada yang ingin aku tunjukkan sesuatu dulu dan aku ingin kau orang pertama yang melihatnya. Kajja”. Kim Ssaem menarik tanganku dan membawaku kesebuah tempat yang aku sendiri tidak tau dan semakin kedalam aku menemukan sebuah tempat yang sangat indah.
“Bagaimana? Indah bukan?”. Tanya Kim Ssaem.
“Ne, sangat indah”.
Sebuah tempat dengan banyak bunga dan beberapa hiasan, serta air mancur di tengah-tengah yang mempercantik tempat tersebut.
“Aku membuat ini untuk tempat berkumpul dan jaraknya dengan sekolah juga tidak terlalu jauh bukan?”. Tanya Kim Ssaem.
“Silahkan duduk”. Kim Ssaem mempersilahkanku untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
“Mianhe, Ssaem ini sudah terlalu sore bisakah kita pulang”. Pintaku
“Sebentar”.
“Tapi”.
“Aku bilang sebentar”. Kim Ssaem sedikit menaikkan suaranya dan membuatku terdiam.
“Kau mau minum? Disini ada beberapa minuman kaleng”. Dalam seketika intonasi suara Kim Ssaem berubah dan memberikan satu minuman cola kepadaku dengan sangat lembut.
“Shin, kau anak yang cantik. Senyummu seperti sinar yang menerangi bumi”. Puji Kim Ssaem.
“Khamsahamnida”. Jawabku dengan sedikit menunduk dan menutupi setengah wajahku dengan kaleng cola.
“Apa kau sudah punya kekasih?”. Tanya nya lagi.
Entah kenapa ada yang aneh dengan Kim Ssaem saat ini.
“Any”.
“Begitu? Sayang sekali, kau gadis yang cantik”. Ucapnya sambil membelai pipiku,
Jujur saja aku merasa sedikit takut sekarang. Wajah dan nada Kim Ssaem berubah dengan cepat, beberapa saat lalu dia begitu baik dan lembut kemudian hanya hal kecil dia langsung emosi dan sekarang kembali baik dan lembut.
“Aku tidak akan menyakitimu”. Ucapnya lagi.
“Ssaem bisakah kita pulang, aku sudah terlambat nanti Oppa..”.
“Kau tidak bisa kemana-mana”. Ucap Kim Ssaem yang kembali berteriak membutaku terhenyak ke belakang.
“Maksudnya?”. Tanyaku heran.
“Aku sudah cukup jelas mengatakannya jika kau tidak bisa pergi kemana-mana. Park Shin Hye aku sudah lama memperhatikanmu dan aku..”. Rae Won kembali mengelus pipiku dan mulai mendekatkan wajahnya padaku. Dengan perasaan berdegup aku mendorong Kim Rae Won Ssaem hingga terjatuh dan tepat saat itu aku pun berlari menjauh sejauh yang aku bisa, tanganku tersangkut beberapa ranting hingga membuat bajuku sobek, aku dapat mendengar Kim Ssaem berteriak.

Aku berlari menuju jalanan namun entah mengapa semua terasa berbeda, jalanan sangat kosong bahkan tidak ada satu pun kendaraan yang lalu lalang.

*
Author Pov
“Chagi, apa Shin Hye sudah pulang?”. Tanya Yoo Chun pada Eun Hye yang tengah menata meja.
“Belum, ini sudah jam lima seharusnya dia sudah pulang”. Jawab Eun Hye.
“Apa mungkin dia langsung pergi dengan Yong Hwa?”. Tanya Yoo Chun Lagi.
“Any, mereka bertemu nanti jam 7 bukan? jadi tidak mungkin”. Ucap Eun Hye lagi.

Waktu terus bergulir namun Shin Hye tidak kunjung pulang bahkan kini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam sementara itu di tempat lain Yong Hwa menunggu Shin Hye dengan setangkai bunga lili putih bungan kesukaan Shin Hye, Yong Hwa menunggu sejak empat jam yang lalu, dia datang lebih awal dari perjanjian. Yong Hwa datang lebih dulu untuk membeli sebuah bingkisan kecil untuk Shin Hye serta setangkai bunga kesukaannya namun semua itu gagal dan sia-sia karena Shin Hye tidak juga kunjung datang.
Waktu cepat berlalu namun Yong Hwa masih berdiri di depan pintu bioskop hingga akhirnya bioskop pun tutup. Yong Hwa yang kecewa pergi meninggalkan bioskop dan menjatuhkan bunga lili tersebut di depan pintu bioskop dengan tergeletak begitu saja, tanpa Yong Hwa sadari Shin Hye sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya namun semua hanya sia-sia saja.

Sementara itu di tempat lain.
Yoo Chun berusaha menelpon teman-teman Shin Hye namun tidak ada kabar sama sekali bahkan Hye Mi bilang Shin Hye sudah pulang lebih dulu karena Hye Mi memiliki kelas tambahan. Dekorasi ulang tahun terbengkalai begitu saja, Eun Hye hanya mampu menangis sementara Yoo Chun seperti orang yang frustasi.
“Chagi”. Panggil Eun Hye di sela tangisnya.
Yoo Chun pun menghampiri Eun Hye.
“Tadi pagi Shin Hye mengatakan jika dirinya mencintaiku dan dia bilang menyayangiku. Dia tidak akan menerima yeoja lain untukmu, apa maksud dari perkataannya itu? Selama ini Shin Hye tidak pernah mengatakan hal itu padaku. Aku takut, sangat takut. Chagi, eottokae? Shinji baik-baik saja kan? Aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri bahkan jika aku tidak bersamamu kelak aku tetap menyayanginya. Dan senyumnya, pagi itu begitu berbeda. Sebenarnya ada apa denganku?”. Ucap Eun Hye yang mulai kembali terisak, Yoo Chun yang juga merasakan kesedihan hanya mampu memeluk tubuh Eun Hye di dadanya. Shin Hye bukanlah anak yang akan pergi tanpa pamit apalagi sampai tidak ada kabar seperti ini dan dia juga tidak akan pergi dengan orang yang tidak dia kenal.
“Aku tidak bisa diam”. Yoo Chun berlari dan mengambil foto Shin Hye.
“Chagi, kau mau kemana? Ini sudah malam”. Teriak Eun Hye.
Yoo Chun tidak memperdulikan teriakan Eun Hye yang memanggilnya, sementara di sebrang seseorang tengah memperhatikan rumah yang kini terlihat Eun Hye yang sedang berdiri setelah itu kembali menutup tirai gordennya.

Yoo Chun berlari kesana-kemari seperti orang gila. Adik kecilnya, adik kesayangannya pergi begitu saja tanpa kabar. Shin Hye bukanlah gadis yang akan pergi tanpa pesan sedikit pun, apapun yang dilakukannya pasti akan mengabarinya. Jika tidak kepada Yoo Chun, Shin Hye pasti mengabari Eun Hye dan kali ini mereka sama sekali tidak mendapatkan kabar apa-apa dan itu bukan sifat Shin Hye, sekali pun Shin hye telat memberikan kabar tidak akan sampai setelat ini. Ini bahkan sudah jauh berlalu dari jam kepulangannya dari sekolah.

*

Shin Hye berlari sekuat tenaga menjauhi tempat mengerikan tadi, dia berlari menuju rumahnya dan membuka pintu dengan paksa. Rumah itu terlihat kosong, bahkan tidak ada dekorasi yang menghias ruangan tersebut.
“Oppa, Eonni. Kalian dimana? Shinji pulang”. Teriak Shin Hye.
Shin Hye berlari dari ruangan satu ke ruangan lain namun tidak ada seorang pun disana.
“Oppa, Eonni. Ini tidak lucu, kenapa kalian tidak menjawabku?”. Shin Hye kembali berteriak namun tetap saja tidak ada jawaban dari siapapun.
Shin Hye berjalan menuju sebuah kamar yang sangat terang, Shin Hye membuka ruangan tersebut disana hanya terdapat sebuah wastafel dan kursi dengan seseorang yang tengah menunduk, Shin Hye mendekati wastafel yang penuh dengan darah dan di atas kran air tergantung kalung berbandul mentari, Shin Hye mendekati kalung tersebut dan tepat saat itu orang yang tengah menunduk tersebut bangun dengan wajah penuh darah dan tiba-tiba lantai disekitarnya penuh dengan tanah merah yang kotor bahkan di tubuh orang yang ternyata Kim Rae Won itu juga menempel tanah yang sama.
“Apa ini? Tidak... Tidakkkkkkk”. Shin Hye berteriak bersamaan dengan sebuah cahaya yang menariknya pergi.

Sementara itu Yoo Chun berlari di sekitaran jalan antara rumahnya hingga menuju sekolah Shin Hye untuk bertanya pada orang yang dia temui, apakah dia melihat Shin Hye atau tidak namun semua menjawab tidak.
“Chogio, Tuan apa kau melihat gadis ini? Dia adikku, dan dia sampai saat ini belum juga pulang. Mungkin anda melihatnya?”. Tanya Yoo Chun pada seorang lelaki yang lewat di hadapannya.
“Aniyo, Mianhe”. Jawab namja tersebut.
Yoo Chun kembali berlari dan kali ini bertanya pada Ahjumma pemilik Cafe yang biasa dirinya dan Shin Hye datangi.
“Silhiyehamnida, Ahjumma apa Shin Hye tadi kemari?”. Tanya Yoo Chun dengan wajah yang penuh dengan peluh akibar berlari.
“Any, sejak tadi Shinji tidak kemari. Waeyo? apa dia belum pulang?”. Tanya Ahjuma bermarga Choi tersebut.
“Belum, Khamsahamnida. Jika Shinji kemari tolong kabari aku”. Pinta Yoo Chun, Yoo Chun pun keluar dari cafe tersebut dan bersamaan dengan itu di ujung jalan Shin Hye berlari dan memanggil Yoo Chun.
“Oppaaaa”. Teriak Shin hye dengan keras.
Merasa ada yang memanggil Yoo Chun pun menoleh namun dia tidak melihat keberadaan Shin Hye setelah itu akhirnya Yoo Chun pun kembali pulang dengan wajah yang lebih frustasi dirinya langsung berlari menuju kamar seni dimana semua pekerjaannya dibuat, Yoo Chun mengacak semua benda yang ada disana, membantingnya dan juga merobeknya dengan kesal sementara Eun Hye hanya mampu melihatnya dengan air mata yang berderai, bukan ini yang diinginkan Yoo Chun. Niatnya dialah yang memberikan sebuah kejutan bersama Eun Hye untuk acara ulang tahun Shin Hye tapi dirinyalah yang mendapatkan kado kejutan yang sangat tidak dia sukai seperti ini, hingga akhirnya Yoo Chun sampai pada lukisan Shin Hye yang tengah tersenyum dengan background mentari yang bersinar, lukisan yang sangat disukai Shin Hye.

Flashback On
“Coba buka itu”. Pinta Yoo Chun.
Shin Hye pun berjalan menuju tempat yang di tutupi kain putih dan menarik kain tersebut, seketika Shin Hye terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Apa kau suka?”. Tanya Yoo Chun sambil mengacak rambut Shin Hye.
“Hmm”. Jawab Shin Hye sambil mengangguk.
“Ini benar-benar aku?”. Tanya Shin Hye lagi.
“Bukan, itu penjual kue beras yang ada di depan sekolahmu”. Jawab Yoo Chun asal.
“yya, Oppa”. Teriak Shin Hye dan Yoo Chun hanya tertawa.
Shin Hye sangat terharu mendapatkan sebuah lukisan yang sangat cantik, lukisan dirinya yang tengah tersenyum dengan latar mentari yang tengah bersinar.
“Apa Oppa membuatkannya untuk Eonni juga?”. Tanya Shin Hye.
“Any, aku hanya membuatkannya untukmu. Ini special untuk uri yeodongsaeng yang paling cerewet dan manja”. Ucap Yoo Chun sambil memeluk tubuh mungil Shin Hye.
“Yya, aku tidak cerewet dan manja”. Protes Shin Hye.
“Lalu? Hanya bawel dan tidak mandiri?”. Tanya Yoo Chun yang sukses membuat Shin Hye cemberut.
“Hahaha, kau tetap adikku yang manis dan yang paling aku sayangi”. Ucap Yoo Chun.
“Kau lebih sayang aku atau Eonni?”. Tanya Shin Hye.
“Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku menyayangimu, jelas kau adikku. Lalu kau lebih sayang aku atau Eonnimu?”. Jawab Yoo Chun yang balik bertanya.
“Aku menyayangi kalian berdua, karena hanya kalian yang aku punya di dunia ini. Oppa dan Eonni orang yang paling berharga untukku, tetaplah saling menyayangi jika nanti aku tidak disamping kalian”. Ucap Shin Hye.
“Yya, kau bicara apa?”. Tanya Yoo Chun marah namun Shin Hye hanya tersenyum.
“Oppa, kau tau? Aku ingin menjadi detective yang hebat sepertimu, lihat apa aku cocok mengenakan topi dan kaca pembesar ini? Kelak aku akan memecahkan kasus lebih banyak darimu Oppa”. Ucap Shin Hye sambil bergaya seperti seorang detective bak Sherlock Holmes atau Detective Conan kesukaannya.

Flashback Off

“Kau bilang kau ingin menjadi detective, tapi detective apa yang pergi di saat hari ulang tahunnya sepertimu ini Shin?”. Ucap Yoo Chun sambil memegang kaca pembesar dan topi yang pernah dikenakannya waktu itu.

Keesokan harinya seorang teman Yoo Chun dari divisi pencarian mulai datang dan ini hari kedua Shin Hye menghilang.
“Apa kalian ada masalah sehingga Shinji kabur?”. Tanya orang tersebut.
“Dia tidak kabur dan kami tidak ada masalah apapun, Shinji menghilang tepat di hari ulang tahunnya”. Ucap Yoo Chun yang tidak bisa menerima pertanyaan temannya tersebut.
“Pakaian apa yang terakhir dia pakai sebelum dia kabur?”. Tanya detective bermarga Ahn tersebut.
“Ahn Taek Kyung, aku sudah mengatakan padamu dia tidak kabur”. Ucap Yoo Chun geram.
“Chagi tenanglah”. Ucap Eun Hye dengan mengelus tangan Yoo Chun dan menbawanya kedalam.
Setelah menenangkan Yoo Chun, Eun Hye pun keluar.
“Shinji pergi dengan menggunakan syal rajutan buatanku, celana jeans biru lengkap dengan jaket yang senada, dibawah jaketnya dia memakai baju warna putih dengan sedikit renda dibawahnya”. Jawab Eun Hye menjelaskan detail pakaian yang di gunakan Shin Hye.
“Baiklah, aku akan segera proses tunggu kabar dariku secepatnya”. Ucap Tuan Ahn sebelum berpamitan.
“Ne, Khamsahamnida”. Eun Hye menunduk hormat pada rekannya tersebut sebelum menutup pintu, sementara itu jauh di suatu tempat Shin Hye tengah menyaksikan itu semua.

“Oppa, Eonni. Shinji disini kenapa kalian mengacuhkanku?”. Gumam Shin Hye dan pergi begitu saja.

Seminggu telah berlalu namun Shin Hye masih juga belum pulang bahkan Yoo Chun terlihat lebih terpuruk sekarang.
“Shinji, kau dimana? Mengapa kau begitu jahat meninggalkan Oppa seperti ini?”. Gumam Yoo Chun sambil menatap lukisan wajah Shin Hye yang tengah tersenyum.
“Kau bilang kau akan menjadi detective tapi apa? Kau malah pergi, Park Shin Hyeee, arrghhh”. Yoo Chun kembali merusak semua kerajinan tangan yang dibuatnya dengan Shin Hye.

Di suatu tempat Shin Hye hanya duduk terdiam dan setelah itu berjalan menuju rumahnya disana dia melihat Yoo Chun tengah membanting semua hasil karyanya dan langsung terduduk lemas sementara Eun Hye hanya mampu terduduk di balik pintu sambil menangis, Shin Hye pun pergi begitu saja.

Shin Hye kembali berjalan dan menatap seorang namja yang tengah duduk disebuah kursi dekat pintu bioskop, seorang namja tampan yang tidak lelah menunggu seseorang untuk datang menghampirinya.
“Yong, Mianhe”. Gumam Shin Hye.


TBC







Annyeong, ini ff tentang 'kehidupan' yang pertama Q buat, awalnya ff ini gak mau aku publish karena untuk menulisnya saja agak ragu sebenernya. Ff ini terinspirasi dari Film yang beberapa kali Q tonton belakangan ini. Untuk yang pernah nonton mungkin mengerti dengan jalan ceritanya. Semoga FF ini tidak mengecewakan ya :-)

Baca Cerita Yongshin Fanfic Lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "My Lovely Shin"

Post a Comment

Halo para pembaca setia FF Yongshin Fanfic. Terima kasih atas kunjungannya. Silahkan tinggalkan komentar sebagai bentuk apresiasi dan support anda untuk penulis kami agar bisa berkarya lebih baik lagi...

Salam
^_^

Follow Yongshin Fanfic by Email

FF Pilihan

Apa FF yang Terbaru?